Si Upin Bijak, Si Ipin Gak Bijak
Bijak dan gak bijak, ini juga sering jadi masalah di masyarakat. Jadi masalah karena kebanyakan patokan kebijaksanaan kita adalah dari aturan budaya, jadi sangat sangat relatif, tergantung di lingkungan bagaimana kita tumbuh. Dan kita sering mencap sesuatu itu bijak dengan ego kita, akhirnya kalau orang lain melakukan sesuatu terhadap kita yang menurut kita gak bijak, itu jadi masalah … dan kalau perlu dengan masalah itu kita jadi sakit hati .. dan kalau perlu jadi musuhan.
Nah, kalau kita muslim, patokan bijak dan gak bijak itu seharusnya Al Quran. InsyaAllah gak akan jadi masalah kalau memang betul-betul Al Quran kita jadikan referensi utama tentang bijak dan gak bijak tersebut. Contoh, ada suami dan istri. Si suami namanya upin, si istri namanya ipin. Upin berpendapat begini, jadi orang tua itu kita harus keras sama anak, disiplin diperketat, anak harus selalu kita atur, anak harus nurut sama orang tua, dan kalau perlu dimarahi agar dia nurut. Menurut upin, itulah cara bijak supaya anak bisa jadi anak yang baik. Tapi Ipin berpendapat begini, jadi orang tua itu kita jangan terlalu keras sama anak, kalau pun mau marah ya yang ringan-ringan saja, kalau anak gak nurut kita kurangi saja uang jajannya atau apa yang dia minta gak kita kasih. Menurut Ipin itulah cara bijak supaya anak jadi anak yang baik. Salah gak ? .. ya jelas gak .. si Ipin dan Upin punya patokan bijak masing-masing tergantung dari bagaimana dia dididik oleh orang tua dan lingkungannya, dan pasti gak akan pernah sepakat .. paling paling ambil jalan tengah, kolaborasi hehe …
Nah, kalau di Quran, anak itu harus berkembang sesuai alur hidupnya, jadi kita harus selalu mem-profile anak setiap harinya untuk melihat arah minat anak ke mana. Tapi yang pertama kali yang harus diajarkan ke anak adalah “Siapa Tuhannya”. Jadi, menurut Allah SWT, mendidik anak tuh begini. Anak itu harus nurut ke Allah SWT, bukan ke orang tua. Jadi kalau orang tua menyimpang dari apa yang Allah SWT bilang, anak jangan ngikutin dan boleh mengkritik orang tua, dan orang tua harus terima. Aturan hidup anak juga harus aturan Allah SWT, jadi anak harus paham bahwa tanggung jawabnya nanti adalah di akhirat, dia bertanggung jawab ke Allah SWT bukan ke orang tua. Dan setiap yang dia lakukan itu ada konsekuensinya di akhirat, jadi dia harus selalu bertanya ketika akan melakukan sesuatu : “sudah siapkah dengan konsekuensinya di akhirat ?”. Dengan kata lain, anak itu harusnya nurut ke Allah SWT bukan ke orang tua. Trus, anak itu jangan dimarahin karena anak itu bagaimana orang tua mendidiknya, dan yang namanya anak-anak pasti gak nurut dan pengen nyoba ini dan itu, dan ngurus anak pasti susah. Jadi memarahi anak dalam kadar apapun itu tidak baik.
Nah, jadi kalau menurut Al Quran, prinsip mendidik anak menurut Ipin dan Upin tidak sesuai, jadi tidak bijak. Kalau si Ipin dan si Upin patokannya Al Quran, insyaAllah sama dan bisa bekerja sama dengan baik. Jadi tinggal kita pilih, patokan bijak dan gak bijak kita mau yang mana ? Quran ? atau budaya ?
Dilamar Kok Bingung ??
Nah, ini ada yang lucu … jadi, salah seorang kenalan saya ceritanya dilamar orang tapi malah bingung mau diterima apa nggak hehe … kok bisa ya ? :p Setelah saya tanya, ternyata dia mengharapkan orang lain yang melamar dia, dan gak mau sama orang yang hendak melamar dia. Tapi ‘gak mau’-nya ini ragu-ragu alias gak yakin hehe … kalau kata orang sunda mah “aya aya wae”
. Tapi juga, kenalan saya ini tipikal wanita standar yang maunya nunggu dan gengsi untuk mulai duluan hehe … Nah, karena saya yang nulis artikel ini maka kan pertanyaannya “gimana pendapat gw ?”
.
Nah, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, untuk apa kita ragu, kalau kita mau ya terima saja lamarannya, kalau tidak mau ya tolak saja. Jangan digantung, kasian orangnya. Digantung tuh bukan dalam artian gak diberi jawaban yang jelas saja, tapi juga dengan kata-kata seperti “belum siap” dan sejenisnya. Secara tidak sadar kita sudah menggantung orang itu karena bisa saja orang itu berpikir ini “ini orang bukannya gak mau, tapi belum siap saja”. Jadi tinggalkan yang ragu-ragu, yang pasti-pasti aja deh hehe. Dan, ini juga berarti jangan aji mumpung, secara sadar ataupun tidak. Gimana ngetestnya ? Gampang, evaluasi diri sendiri. Kalau kita maunya sama si A, tapi dilamar si B malah bingung, menurut saya kemungkinannya ada dua. Satu, kita tidak benar-benar mau dengan si A, atau ….. dua, kita mempunyai pikiran “tapi mumpung ada yang mau, kapan lagi nikah” … secara sadar ataupun tidak. Nah, ini masalah, karena bisa mengakibatkan kita hidup dalam keterpaksaan. Satu keterpaksaan akan mengakibatkan keterpaksaan-keterpaksaan yang lain, dan yang namanya terpaksa itu tidak ada yang baik walaupun dalam hal kebaikan sekalipun.
Lalu kedua, takdir itu kita tidak pernah tahu bagaimana format dan isinya, jadi tidak usah dipermasalahkan. Kita tidak akan pernah tahu kok bagaimana kita bertemu jodoh kita, siapa orangnya, dan bagaimana sifatnya. Jadi tidak usah dipermasalahkan, jangan berlindung dibalik kalimat “tapi kan kita gak tau jodoh kita siapa”. Karena kita tidak tahu jodoh itu bagaimana, usaha saja lah. Tugas manusia kan berusaha dengan semaksimal mungkin, jadi mau perempuan atau laki-laki, usahakan saja semaksimal mungkin. Kalau suka sama seseorang, cari tahu gimana orangnya, atau coba berinteraksi dengan dia, jangan maunya nunggu … mau hasil tapi gak mau usaha, jadinya ego yang main. Dan dengan ego ini, ajaran budaya akan semakin membisiki dengan istilah “gengsi donk, masa cewe duluan”. Dan akhirnya kita akan selalu menggunakan dalih dari ajaran budaya itu, jadi wayahna kalau kita selalu berada dalam keterpaksaan … terpaksa menerima keadaan yang sebenarnya adalah konsekuensi dari sikap kita. Dan kalau maunya nunggu, jangan protes kalau kita dapat ’seadanya’ dalam arti siapa yang ada di depan kita pada akhirnya akan kita terima walaupun kita tidak benar-benar mau, yang ada adalah mau dan suka karena kita terdesak keadaan, bukan karena berpikir.
Keterpaksaan seperti ini bukanlah sabar karena sabar tidak muncul dari keterpaksaan, tapi harus dari kewajaran dan pemikiran. Dan secara sadar ataupun tidak, ini hanyalah salah satu contoh kecil dari keterpaksaan-keterpaksaan yang sejak kecil sudah kita jalani dan diajarkan dari lingkungan ataupun orang tua. Dan ini sudah berkerak lama sekali dan sangat merusak.
Jadi seperti kata Mbah Surip, kalau mau bahagia itu mudah : kurangin tidur, banyakin kopi hahaha …. yaa intinya jangan hidup dalam keterpaksaan. Tidak usah bingung, putuskan apa yang kita mau, jalani, terima konsekuensinya, termasuk dalam hal lamar-melamar atau dilamar hehe …..
Ada Uang Abang Disayang, Tak Ada Uang ??
Apa coba jawabannya ?? Ya mangga, masing-masing orang beda-beda, tapi kebanyakan mah gak ada yang jawabannya “Alhamdulillah ..”. Biasanya kan kalau suami gak punya uang, istri ngambek kan ya. “Gimana sih abang nih, kerja atuh yang bener, cari uang yang banyak buat keluarga !!”.
Nah, pertanyaannya “Atas dasar apa itu istri memilih suaminya ??”. “Karena cinta donk !” … hehe … iya gitu ?? Trus kenapa kalau lagi ‘elit’ (ekonomi sulit) malah marah-marah ? Muncul pertanyaan, apa sih cinta itu ?? Sebenarnya itu istri cinta atau bogoh ??
Cinta menurut Allah SWT adalah suatu perasaan dimana kita akan selalu memberi, memberi, dan memberi tanpa pamrih apapun. Nah, kalau lagi ekonomi sulit trus marah-marah ke suami itu cinta bukan ?? Ya jelas bukan
. Itu mah bogoh, suka, atau apalah namanya yang intinya penuh dengan pamrih dan ego. Kalau memang cinta, gak ada tuh yang namanya marah-marah, karena apapun yang terjadi sang istri akan selalu berusaha memaklumi sang suami. Lagipula, uang itu kan ujian, dan ujian itu hak Allah SWT untuk menentukan kapan dan sebesar apa kita akan diuji dengan yang namanya uang. Jadi untuk apa khawatir, bekerja saja semaksimal mungkin, gak usah mikirin uang. Dan kalau memang kita paham bahwa uang itu ujian, untuk apa marah-marah atau sedih kalau gak punya uang ? Justru harusnya alhamdulillah, karena ujiannya berkurang, lebih enteng kan ya ??
Misal lagi. Pengen punya suami kaya atau biasa aja ? Dan kalau kekayaan itu trade off-nya adalah kualitas keislaman yang lebih kurang dibandingkan dengan yang biasa saja, pilih mana ?? Suka gak suka, biasanya banyak orang pilih yang lebih kaya kan ya, walaupun gak semua. Nah pertanyaannya, kenapa kita lebih memprioritaskan harta dan status dibandingkan keislaman ?? Jadi tuhan kita siapa ?? …….. “Tapi kan ini demi kebahagiaan kita, kalau hidup kita cukup kan kita lebih bahagia” … iya gitu ?? Kalau begitu, berarti hidup kita ditentukan oleh harta dan status donk, lalu siapa tuhan kita ?? Dan dengan begitu, kita kan yakin bahwa harta bisa memberikan kenyamanan hidup, dengan hidup nyaman kita jadi senang. Jadi sebenarnya motifnya adalah kesenangan, karena dengan harta kita bisa membeli banyak kesenangan. Lalu siapa tuhan kita ?? Dan kalau motif dasarnya (secara sengaja ataupun tidak) adalah kesenangan, apakah itu cinta ??
Nah, jadi pertanyaannya untuk kita, kalau ada uang abang disayang, kalau gak ada uang gimana ???
Tugas Akhir untuk Status ??
Saya termasuk orang yang sangat beruntung, karena saat ini masih berhutang tugas akhir pada institusi yang bernama Universitas Gajah Mada. Seharusnya, saya bisa saja lulus awal tahun ini, tapi alhamdulillah karena Allah SWT masih menguji saya dengan tanggung jawab sebagai mahasiswa, maka saya belum lulus-lulus juga.
Petualangan mencari ide tugas akhir sudah jauh hari saya pikirkan sejak masih di ….. tingkat 3 kalau gak salah. Ada sejumlah project yang bahkan sudah saya buat ’sketsa’ kasarnya, ada juga yang baru hitung-hitung saja. Sebagian dari ide-ide itu sempat saya yakini dan akan saya putuskan untuk saya implementasikan sebagai tugas akhir, walaupun pada akhirnya tidak jadi karena satu dan lain hal. Ya .. setidaknya ikut serta dalam memberdayakan otak lah, nothing to lose pastinya.
Anyway, tahun lalu saya sempat merencanakan sebuah project yang idenya sih sudah ada sejak jaman kuliah dengan Bu Sri Hartati dulu (Best regard buat Sonny, kita berdua ngulang dapat A hahaha), dan sempat saya kerjakan sekelumit (dalam kapasitas jauhhh lebih sedikit dari “sedikit”), itu pun belakangan saya ketahui salah besar desainnya, cuma sebagai pelangkap tugas saja sih. Tapi kemudian, saya juga lupa alasannya apa, akhirnya saya memutuskan untuk membantu riset teman saya yang kebetulan calon dosen di Geofisika. Topiknya tentang data logger, teman saya membuat hardwarenya, saya membuat softwarenya. Dan, tidak tahu bagaimana sejarahnya, tiba-tiba saya memutuskan ini saja yang menjadi topik tugas akhir saya …. that was kinda stupid, setelah saya pikir-pikir sekarang ini. Tapi, seperti kata Pak Agus Harjoko : “Yang namanya belajar itu tidak ada ruginya …”, saya menemukan banyak sekali pelajaran dibalik keputusan saya yang agak salah itu, dalam arti kenapa kok itu yang ingin dijadikan tugas akhir, padahal kerjakan biasa saja, tugas akhirnya yang rencana semula saja.
Dan selama dalam perjalanan berbulan-bulan selanjutnya, banyak perubahan dalam pola pikir saya yang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan “Gw ngerjain TA buat cari ilmu apa buat cari lulus ??”, and that was one of my brilliant questions over past few months hahaha.
Dasar pemikirannya adalah bahwa Allah SWT memerintahkan saya untuk mencari ilmu, bukan mencari lulus, sedangkan lulus adalah untuk mendapatkan gelar dan ijazah, sedangkan gelar dan ijazah hanyalah statuss … simbol … dan tidak akan ditanya di akhirat. Jadi kalau saya memang mengaku Islam, maka saya seharusnya tidak memikirkan lulusnya, tapi lebih memikirkan “apa yang bisa saya hasilkan”. Tapi sayangnya, hingga beberapa bulan kemarin, selama ini yang saya pikirkan sebagai tujuan adalah status, bukan ilmu. Jadi memang dulu saya terobsesi untuk menyelesaikan tugas akhir secepat mungkin agar cepat lulus dan dapat status. Tapi alhamdulillah Allah SWT berkehendak lain, saya masih diberi kesempatan untuk mengevaluasi diri dan belum terlanjur lulus, karena kalau terlanjur lulus maka saya tidak akan melewati fase introspeksi seperti sekarang ini, dan pasti saya masih menjadi anggota dari PPS alias Para Pengejar Status. So, I don’t even care about what people said anymore … so I decided to jump higher and restarted one of my obsession a year ago … and that’s it, nothing more exciting than this one right now … having a relieved mind working on what it want to be done.
Jadi, apapun yang saya tulis di atas
, … intinya adalah jangan menjadi pengejar status. Kerjakanlah sesuatu untuk menghasilkan karya, untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari status. Sekolah adalah untuk mencari ilmu, bukan status dalam bentuk gelar dan ijazah, sekali lagi untuk mencari ilmu … dan ilmu itu yang akan ditanya di akhirat, bukan status. Dan ketika kita menjadi pencari status, maka kita tidak akan pernah bekerja maksimal dan selalu berada dalam tekanan. Atau lebih parah lagi, kita akan membuat banyak batasan dalam diri kita dan selalu mencari keamanan dari sebuah status …. which is what I called “a nightmare”. Buat apa hidup untuk mencari aman, karena pada dasarnya hidup tidak menawarkan keamanan.
Agama oh Agama …
Siapa yang tidak beragama ? Kalau ada yang mengaku tidak beragama, berarti dia bohong .. kelitikin !! hahaha. Ya, memang tidak ada orang yang tidak beragama, seperti halnya tidak ada orang yang atheis.
Agama adalah Aturan GAwe MAnusia. Jadi agama mengatur setiap pemikiran, perbuatan, dan perasaan seorang manusia selama dia hidup. Jadi agama bukan hanya dalam arti agama-agama yang kita kenal seperti Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, dan lain-lain. Agama bisa berupa apa saja yang sifatnya mengatur dan kita jadikan landasan dalam berpikir dan berbuat. Pertanyaannya, agama apakah yang kita pilih ? Dan apakah setiap waktu dalam hidup kita memegang satu agama, atau malah banyak agama ?
Misalnya begini, tentang marah. Allah SWT tidak mengajarkan kita untuk marah, tetapi budaya kita mengatakan marah itu sehat karena menyalurkan emosi. Malah menyalurkan emosi untuk marah itu sangat dianjurkan. Nah, pada saat kita emosi seperti itu, apa agama kita ? Apakah budaya atau Islam ? Mana yang kita ikuti, budaya atau Allah SWT ?
Atau begini, tentang uang. Kata Allah SWT, uang adalah ujian, jadi kita tidak pantas minta diberi uang apalagi banyak, karena sama saja kita minta diuji, jadi kita menantang Allah SWT. Padahal hanya Allah SWT yang berhak menentukan apakah kita akan diuji dengan uang atau tidak, dan kalaupun iya, seberapa banyak ujiannya. Tapi, menurut budaya kita, uang itu penting. Karena memang uang bukan segala sih, tapi segalanya bisa selesai dengan uang. Nah, pertanyaanya, mana yang kita ikuti, kata Allah SWT apa kata budaya ? Indikatornya jelas dan mudah, kalau kita pilih ikut aturan budaya, maka kita akan menjadikan uang sebagai tujuan, kalau bisa dapat uang banyak gak habis sampai 7 turunan. Jadi apapun yang kita kerjakan itu karena untuk mendapatkan uang, jadilah kita para pengejar uang dan kita akan selalu mengklaim uang yang kita punya sebagai milik kita dan kita rela uang itu habis atau hilang. Tapi kalau kita pilih aturan Allah SWT, kita tidak akan memikirkan uang, kita akan selalu bekerja maksimal karena motivasinya adalah Allah SWT. Dan ketika punya uang, kita tidak akan pelit. Dan ketika kehilangan uang, kita tidak akan bingung, marah, sedih, atau sejenisnya karena kita tidak pernah mengklaim uang itu milik kita, tapi milik Allah SWT. Dengan demikian kita akan selalu membelanjakan uang kita dengan penuh tanggung jawab kepada Allah SWT. Jadi pertanyaannya, ketika kita bekerja, agama kita budaya atau Islam ?
Nah, jadi pertanyaannya … apa agama yang kita pilih ? Silahkan pilih … silahkan pilih …………
Dewasa Geura !
Setengah hari ini saya berpikir apa sih kedewasaan itu ?, kenapa yang namanya ‘kedewasaan’ itu jadi masalah pada banyak kesempatan ?
Misalnya begini, ada orang-orang yang sifatnya ambekan. Sebagian orang menganggap sifat ini adalah sifat yang tidak dewasa, or sangat tidak dewasa. Pertanyaannya, kenapa kita menganggap sifat ambekan itu sebagai ketidakdewasaan ? Untuk menjawab itu, saya balikkan lagi jika saya dalam posisi orang yang”‘diambekin”. Ketika saya diambekin orang, lalu saya judge orang itu “Gak dewasa lu !”, apa alasan saya ? ……. Setelah dipikir-pikir, alasannya cuma satu, yaitu karena saya tidak senang diambekin, karena diambekin itu terasa tidak menyenangkan. Hmmm … kalau begitu saya mengatakan orang itu tidak dewasa karena saya tidak disenangkan oleh orang itu.
Lalu misalnya begini, kalau kita diambekin orang yang kita sukai bagaimana ? Kalau dalam budaya masyarakat, ketika pedekate trus kita diambekin orang yang kita dekati karena sesuatu hal, sikap normalnya gimana ? ……. biasanya senang kan ya, karena kalau dia ngambek berarti dia “gak cuek” sama kita alias berarti mungkin ada perasaan juga, dan kita biasanya tidak akan mengatakan bahwa sikap itu sebagai ketidakdewasaan. Hmm … lalu kenapa kalau diambekin orang lain kita merasa tidak senang ?
Kalau saya pikir-pikir, yang namanya kedewasaan itu hanyalah sebuah definisi dari sebuah format sikap seseorang yang timbul dari sebuah pola pikir. Kedewasaan adalah pengelompokan perilaku atau pemikiran dimana ada sekelompok perilaku atau pemikiran yang kita hindari dan kita tandai sebagai “tidak dewasa” dan ada sekelompok lain yang kita anjurkan pada diri kita untuk melakukannya dan kita tandai sebagai “dewasa”. Misalnya masalah ambekan tadi, pada kebanyakan kasus kita menganggap ambekan itu sebagai ketidakdewasaan, tapi pada sejumlah kasus lain kita tidak mengganggapnya seperti itu. Dan ini biasanya berbeda-beda tergantung situasi dan orangnya.
Jadi, menurut saya memang yang namanya kedewasan itu relatif, karena itu tergantung pola pikir kita, dan pola pikir biasanya bergantung pada komunitas tempat kita berada. Selain itu, kedewasan itu juga bergantung dari apakah kita senang dengan suatu pemikiran atau perilaku. Biasanya kalau kita tidak senang dengan suatu perilaku atau pemikiran maka bisa jadi kita cap itu sebagai “tidak dewasa”, tapi kalau kita senang dengan suatu perilaku atau pemikiran maka kita tidak akan mencap itu sebagai dewasa atau tidak dewasa. Jadi klaim dewasa atau tidak dewasa hanya seperti permainan pikiran saja. Kalau saya definisikan sifat ambekan sebagai sifat yang biasa aja dalam otak saya, maka saya tidak akan berpikir orang yang suka ambekan itu adalah orang yang tidak dewasa.
So, why don’t we keep neutral ? Kenapa tidak kita berusaha berpikir netral, berusaha memaklumi sebisa mungkin setiap perilaku dan pemikiran orang lain, karena memang setiap orang itu berbeda. Dan ini memang sudah Allah SWT ajarkan, “untukmu agamamu, untukku agamaku”. Setiap orang memiliki aturan masing-masing untuk menentukan sikap dan perilakunya. Hmmm …. berarti kita juga harus berusaha memaklumi orang yang menggunakan istilah kedewasaan. Setiap orang berhak mengatakan sesuatu itu dewasa atau tidak dewasa, setiap orang berhak mengatakan sikap kita dewasa atau tidak dewasa …. selama masih dalam koridor aturan Allah SWT, tidak ada salahnya berusaha memaklumi.
Lagipula, saya pikir dengan tidak terlalu mempermasalahkan definisi kedewasaan orang lain, maka insyaAllah kita bisa lebih tenang dalam menjalani hidup dan lebih bisa menghargai orang lain.
Lily dan Konsep Gorilla
Saya sedang suka sekali menonton film-film serial, dan salah satunya adalah film serial berjudul How I Met Your Mother. Film ini menceritakan tentang seorang ayah yang bercerita kepada anak-anaknya kisah-kisah hidupnya ketika masih muda hingga dia bertemu istrinya, yaitu ibu dari anak-anaknya. Sang ayah yang bercerita bernama Ted Mosby, dan sang ibu bernama …………. well, I don’t know yet hehehe …. saya sedang nonton season 2 tapi belum juga diceritakan siapa sih future wifenya. Mungkin nanti kalau filmnya sudah mau habis.
Salah dua tokoh dari cerita di film ini adalah sepasang muda-mudi bernama Marshall dan Lily. Marshall adalah sahabat Ted sejak kuliah, dia sedang kuliah profesi hukum sambil menjalani hubungannya dengan Lily. Sedangkan Lily adalah seorang guru TK yang kebetulan juga adalah teman kuliah Ted dan Marshall. Pada season 2, Marshall dan Lily akhirnya menikah dan Ted …… masih saja single.
Anyway, suatu ketika Marshall sedang begitu kekurangan uang, terutama untuk ‘modal’ pernikahannya. Secara kebetulan, dia ditawari Barney untuk magang di perusahaan tempat dia bekerja. FYI, Barney adalah teman Ted, Marshall, dan Lily. Dia bekerja di sebuah perusahaan yang membuat bola tennis sebagai bisnis pengalih perhatian masyarakat sementara perusahaan tersebut melakukan bisnis-bisnis yang merusak lingkungan. Karena Marshall adalah seorang pecinta lingkungan, maka dia berpikir keras untuk menolak tawaran Barney ………. dan ternyata tidak hehehe … demi uang tentunya. Jadilah Marshall magang di perusahaan tempat Barney bekerja … apa ya namanya ?
Di awal-awal kegiatan magang, Marshall merasa tidak nyaman karena bekerja dengan orang-orang yang sifatnya sangat tidak menyenangkan dan jauh sekali dengan tipikal sifatnya. Kalau kata saya mah “sle nge an” hehe …. but they were suited up by the way. Lily berpendapat sebaiknya Marshall tidak meneruskan magangnya itu daripada harus merasa tertekan dan terpaksa (good point girl !). Tapi Marshall ingat guru biologinya dulu yang mengajarkan tentang gorilla. Untuk bisa hidup di lingkungan yang penuh dengan gorilla, gurunya itu mengatakan bahwa dia harus bisa menjadi seperti gorilla, harus paham cara berpikirnya, karakternya, kebiasaannya, dan lain-lain. Nah, Marshall akhirnya memutuskan untuk belajar bersikap seperti mereka dengan harapan itu hanya sekedar keperluan kantor saja. Untungnya, dia memiliki guru yang sangat tepat ….. Barney.
Akhirnya, Marshall mulai bisa bersikap seperti rekan-rekan kantornya dan mulai diterima di sana …. atau dengan kata lain dia sudah bisa menjadi “seperti gorilla” hehehe. Tapi seperti biasa, akhirnya muncul masalah. Marshall mulai kehilangan objektifitasnya dan mulai terbawa arus. Dia mulai berubah sikap dan melupakan cita-citanya untuk membantu menyelamatkan lingkungan. Lily tentu saja protes, apalagi setelah dia melihat bagaimana Marshall berinteraksi dengan teman-teman kantornya.
By the way, Marshall mulai berubah sikap setelah dicuci otak oleh Barney ketika dia diajarkan cara bersikap seperti teman-teman kantornya. Barney berpendapat “Forget your idealism, do it for Lily. You and Lily are going to have married soon, you should think of giving her ‘the package‘ “. Jadi, istilah ‘the package’ yang dibicarakan Barney adalah rumah, mobil, dan biaya hidup lainnya plus the life style, singkatnya harta lah.
Tapi Lily tidak ingin seperti itu, yang dia inginkan adalah Marshall mengerjakan sesuatu yang dia suka dan itu sudah sangat cukup baginya. Dia tidak ingin harta berlebihan, apalagi kalau masalah harta itu membuat Marshall berubah. ‘The package’ menurut Lily adalah ketika dia bisa hidup dengan Marshall, melihat calon suaminya itu bekerja dengan idealismenya, dan tetap menjadi Marshall yang dia kenal sampai kapan pun.
Hhmm, sikap Lily ini perlu dicontoh, karena sulit sekali bisa bersikap seperti itu di jaman sekarang ini. Di tengah pemikiran masyarakat yang begitu ingin banyak uang bahkan dengan mengorbankan idealismenya, atau bekerja tapi tidak merasa senang dengan bidang pekerjaannya, melakukan cara apapun untuk mendapatkan jabatan bagus, dan kalau perlu merubah karakternya untuk tujuan tertentu yang pada akhirnya adalah untuk uang. Ini … mengerikan sekali, padahal harta adalah ujian dan untuk apa kita terobsesi pada ujian. InsyaAllah kalau kita bekerja ikhlas karena Allah SWT, ujian berupa uang itu pasti ada dan mengalir.
So …. two thumbs up for Lily.
Tunjukilah Kami Jalan yang Lurus
Setiap hari kita membaca Al Fatihah kan ya, terutama setiap sholat. Inti dari Al Quran kan ada di surat Al Fatihah yang berisi aspek-aspek penting dari dasar keimanan kepada Allah SWT. Jadi wajar kalau Al Fatihah ada di sholat dan menjadi bagian yang wajib harus dilakukan, maksudnya dibaca.
Ketika kita sholat, kita mengatakan “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. Berarti kan kita meminta kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya meminta untuk ditunjukkan jalan yang lurus … lurus menurut Allah SWT, bukan menurut kita. Tapi ya tergantung sholatnya konsentrasi atau tidak.
Nah, ketika kita meminta kepada Allah SWT untuk ditunjukkan jalan yang lurus, berarti kan kita meminta Allah SWT membukakan kesempatan untuk kita “mengambil” jalan yang lurus itu. Kita lihat, Islam sudah turun dan sudah lengkap. Al Quran sudah begitu lengkap, semua dibahas di Al Quran. Berarti kan Allah SWT sudah membukakan kesempatan kepada kita untuk “mengambil” jalan lurus yang kita minta. Allah SWT sudah tunjukkan “bahan dasarnya”, yaitu Islam dengan Al Quran dan hadits sebagai petunjuk. Dengan demikian, jika memang kita serius ingin ditunjuki jalan yang lurus oleh Allah SWT, maka kita seharusnya mempelajari Islam dengan dedikasi. Seharusnya sih kita jadi “kutu buku-kutu buku” Islam, seharusnya sih kita jadi para pembelajar Quran, seharusnya sih kita jadi maniak belajar Islam, seharusnya sih kita jadi pemikir-pemikir Al Quran dan hadits. Jadi bukan hanya baca novel, textbook, majalah, komik, dan lain-lain. Bukannya gak boleh, mangga saja .. tapi berapa banyak waktu yang kita sediakan untuk mempelajari Islam setiap harinya ??
Dan di Al Quran kan banyak keutamaan untuk mencari ilmu, ayat pertama yang turun saja mengatakan “Bacalah !!”, pakai tanda seru pula. Kenapa pake tanda seru, karena waktu ayat itu turun, situasinya tegang antara Rasulullah dan malaikat jibril, jadi ada penekanan pada perintah “Bacalah”. Kira-kira kan intinya “Bacalah dengan nama tuhanmu”. Dan masih banyak Allah SWT singgung tentang pentingnya belajar dan berpikir, lihat saja ayat-ayat yang menggunakan kata-kata “orang-orang yang berakal”, atau “maka apakah kamu tidak berpikir”, dan lain-lain banyak. Nah, berarti belajar dan berpikir itu kan wajib ya, karena memang penting. Berarti, kalau kita minta ditunjukkan jalan yang lurus ketika kita sholat, maka muncul kewajiban bagi kita untuk mempelajari Islam … dan dengan dedikasi tentunya. Karena jelas Allah SWT katakan “Bacalah dengan nama tuhanmu yang menciptakan”, berarti semua pembelajaran dan pemikiran kita harus semata-mata karena perintah Allah SWT. Dedikasi hanya bisa muncul dari perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata karena perintah Allah SWT, bukan dari motivasi lain. Kalau ada motivasi lain, itu dedikasi semu yang lahir dari budaya.
Nah, jadi tanyakan pada diri kita, sudahkah kita mempelajari Islam dengan dedikasi ? Atau kita hanya meluangkan waktu untuk menyibukkan diri pada urusan-urusan lain saja ? Atau kita memang malas tapi dengan dalih “sibuk euy” ?
Apa Parameter Kesuksesan Kita ?
“Ya Allah .. jadikanlah saya orang sukses … jadikanlah saya orang sukses …”. Doa, kita selalu berdoa dan berharap agar kita menjadi orang yang sukses. Dan saya yakin semua orang inginnya sukses dunia akhirat kan ya, dan itu yang ideal kan. Tapi pertanyaannya, apa parameter kesuksesan kita ?
Pernah tidak kita memikirkan apa parameter kesuksesan kita ? Coba kita lihat di masyarakat, kita mungkin saja dikatakan sukses kalau memenuhi beberapa kriteria berikut ini.
- Sudah bekerja, penghasilan tetap.
- Sudah punya bisnis bagus, tabungan banyak.
- Punya rumah sendiri
- Punya mobil sendiri
- Punya istri cantik
- Punya anak lucu-lucu
Setidaknya itu salah enam dari parameter kesuksesan yang ada di masyarakat, dan biasanya dibungkus dengan istilah “mapan”. Yang nomor 5 dan 6 optional lha ya, tanpa kedua nomor itu juga sudah bisa disebut “mapan”, dan biasanya ini yang dicari para pencari jodoh hehe … minimal nomor 1 atau 2 lah cukup, karena yang lainnya berantai biasanya. Nah, pernah tidak kita kepikiran bahwa secara tidak sadar ataupun sadar, ini parameter kesuksesan kita. Dan ini diajarkan kepada kita sejak kecil, tanpa sadar ataupun sadar. Kita belajar di masyarakat bahwa inilah orang sukses, orang-orang yang bisa punya salah sekian dari keenam kriteria tadi. Itu juga belum termasuk riwayat pendidikan, wehehe … kayaknya mah kalau udah tinggi sekolahnya mah tambah mantap ya.
Nah, dengan memiliki parameter seperti ini, maka kita akan mengejar-ngejar keenam point tadi, atau sebagian dari itu. Pernah kah kita kepikiran bahwa keenam point tadi adalah harta dan status. Jadilah kita para pengejar harta dan para pengejar status. Sedangkan Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk mengejar harta atau status, karena harta hanyalah ujian dan status tidak akan ditanya di akhirat. Harta itu ujian, dan hanya Allah SWT saja yang berhak menentukan kapan kita bisa diuji dengan harta dan seberapa banyak. Kenapa kita ingin sekali punya harta, punya uang banyak .. yang berarti kita ingin sekali diuji. Pantas tidak kita ingin sekali diuji oleh Allah SWT ? Kemana malu kita ? Padahal Allah SWT lebih tau apa yang terbaik untuk kita dan sejauh apa kemampuan kita. Dan setelah kita dapat harta, apakah harta itu kita gunakan untuk ibadah atau untuk senang-senang ? Atau senang-senang yang “dikatakan” ibadah ?
Nah lagi, Allah SWT mengajarkan bahwa manusia dikatakan sukses kalau memang betul-betul hidupnya itu untuk ibadah seluruhnya. Tapi penilaian ini hanya Allah SWT saja yang bisa menilai, walaupun memang bisa kita analisa, tapi penilaian akhir hanya Allah SWT saja yang tau. Jadi kita berusaha saja, beribadah dengan sebenar-benarnya ibadah. Kita bekerja saja karena Allah SWT menyuruh kita bekerja, karena Allah SWT menyuruh kita memberikan manfaat kepada orang lain, karena Allah SWT menyuruh kita menggunakan otak kita dengan maksimal. Silahkan mau jadi pekerja kantoran atau bisnisman, tidak masalah. Asal jangan diem aja di masjid, dengan dalih “Kita harus konsentrasi ibadah” hehehe. Itu mah gak ada kerjaan, tuntutan ibadah lebih banyak ke arah berbuat sesuatu di masyarakat. Jadi Islam teh mengajarkan untuk action terus, hasil akhir serahkan pada Allah SWT.
Jadi, aturan mana yang kita pilih, aturan Allah SWT atau budaya ? Agama mana yang kita pilih, Islam atau budaya ? Siapa tuhan kita, Allah SWT atau budaya ?
Untuk Apa Kita Menikah ?
Saya baru ingat kalau hari ini salah satu teman kuliah saya akan menikah. Ingat ingat masalah nikah, siapa yang gak mau nikah coba ? Kalau ada yang gak mau berarti gak normal hehe … karena nikah mah wajib hukumnya jika sudah mampu. Nah, pertanyaannya untuk apa kita menikah ? Atas dasar apa kita menikah ?
Manusia kan tugasnya ibadah ya, sedangkan ibadah adalah segala perbuatan yang dilakukan hanya semata-mata karena perintah Allah SWT tanpa pamrih apapun. Pertanyaan, sudahkah kita menikah karena perintah Allah SWT ? Atau karena motivasi lain ? Motivasi yang secara tidak sadar kita lakukan dan berkamuflase menjadi “katanya ibadah”. Atau apakah memang secara jelas niat kita bukan untuk ibadah ?
Misal, umur kita udah 25 tahun nih atau lebih dari itu, trus kita belum nikah. Merasa gelisah gak kita ? Kalau kita merasa gelisah berarti ada yang salah. Kenapa salah ? Karena gelisah berarti ketidakyakinan kita kepada Allah SWT. Kok bisa ya ? Coba kita pikir, yang mengatur jodoh kan Allah SWT ya, yakin gak kita kalau jodoh itu sudah ada yang mengatur ? Kalau kita benar-benar yakin, insyaAllah gak akan gelisah atau khawatir. Kalau masih gelisah … nah, tanyakan lagi kepada diri kita sendiri … apakah memang benar kita menuhankan Allah SWT ? Atau untuk masalah jodoh tuhan kita berubah bukan lagi Allah SWT ?
Misal, sudah umur 25 ke atas, belum nikah, gelisah pula. Terus biasanya kan diomongin orang tua tuh “Hayu atuh nikah … ketuaan lho”, atau teman-teman kita sudah pada nikah semua, malah sudah punya anak …. ditambah lagi mereka bilang begini “Buruan nikah, nikah tuh enak lho”. Nah, kalau kita menuhankan Allah SWT, sikap kita harusnya lempeng saja gak ada beban. Tapi kan biasanya kebalikannya ya, yang kayak begini nih malah jadi beban, akhirnya kita termakan pikiran kita sendiri. Akhirnya kita sibuk mikirin cari jodoh … dapat .. trus nikah secepatnya hehehe. Nah, pertanyaan, apakah nikah kita itu adalah ibadah ? Apakah nikah kita itu benar-benar dilandasi dengan kesadaran penuh bahwa tuhan kita adalah Allah SWT yang mengatur semuanya, termasuk mengurus jodoh kita ? Kalau landasan kita memang ibadah, kenapa gelisah ? Kenapa omongan orang lain atau omongan orang tua dijadikan beban ? Kenapa karena omongan orang lain kita tambah gelisah dan ingin cepat-cepat nikah ? Terutama perempuan, wah pasti dijadikan masalah besar kalau umur 25 saja belum nikah, apalagi lebih tua dari itu .. repot lah, riweuh. Apalagi kalau orang tua sudah bilang begini “Mama mau kenalin kamu sama anaknya temen mama, dia baik, sudah mapan pula” .. nah lho, jodoh-jodohan dah jadinya … tambah riweuh.
Kata Allah SWT kan “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”. Nah, dimana kesabaran kita ? …… “Ah saya mah sabar .. bener .. ” … tapi sambil mengelus-elus dada dan penuh kegelisahan hehehe. Sabar memang, tapi muncul dari ketidakberdayaan, ketidakberdayaan kita mengendalikan pikiran kita sendiri, ketidakberdayaan kita yang tidak mampu meneguhkan keyakinan kita pada Allah SWT yang Maha mengatur jodoh. Sabar yang muncul dari ketidakberdayaan mah bukan sabar, tapi knocked out alias K.O. Dan kita tidak sadar melakukan ini, karena ini sudah menjadi budaya. Pertanyaan, agama mana yang kita pilih ? Budaya atau Islam ?
Pernah kah kita berpikir bahwa yang namanya istri itu adalah ujian ? Pernah tidak kepikiran bahwa mungkin saja kita belum siap menerima ujian berupa istri karena hal-hal yang hanya Allah SWT saja yang tahu. Mungkin saja kan Allah SWT ingin kita lebih baik lagi dalam beribadah, baru Allah SWT akan berikan ujian berupa istri. Mungkin saja kan Allah SWT ingin kita melakukan beberapa hal dulu sebelum Dia berikan kita ujian berupa istri. Kemungkinannya itu banyak, dan hanya Allah SWT saja yang tau kapan kita siap dan dalam keadaan apa kita siap.
Kan enak tuh kalau kita serahkan semuanya ke Allah SWT. Eh, tau-tau dapat teman baru …. eh, tau-tau jadi dekat …. ehh, tau-tau jatuh cinta ….. eeehhh, tau-tau jadi aja ….. eeehh, tau-tau nikah …. eehh … eehh …. hehehe ..
Jadi pertanyaannya, ketika kita menikah, siapa tuhan kita ?? Allah SWT ? atau budaya ?