Share Tapi Bukan Saham

Ungkapan pemikiran saja

Status .. status .. status …

with one comment

Sekarang yang namanya status sudah jadi barang penting, saking pentingnya sampai-sampai kita lebih memprioritaskan status ketimbang aturan Allah SWT. Padahal status mah tidak akan ditanyakan di akhirat, tapi wayahna, budaya status sudah mengerak di masyarakat.

Kalau sudah begini, pertanyaannya balik lagi, sebenarnya agama kita itu apa ? Islam atau budaya. Kenapa kita mengaku Islam tapi masih memprioritaskan budaya ? Bagaimana nanti kalau ditanya diakhirat kenapa kita lebih memprioritaskan aturan budaya ketimbang aturan Allah SWT ?

Balik lagi, agama adalah aturan gawe manusia. Jadi agama mengatur setiap pemikiran, keputusan, dan perbuatan seseorang. Nah, pertanyaannya agama apa yang kita pilih ? Ajaran apa yang kita pilih ? Status itu jelas aturan atau ajaran budaya, bukan Islam. Islam tidak memprioritaskan status, karena status itu tidak penting, yang penting adalah bagaimana kita berbuat dan berpikir.

Seseorang punya gelar banyak belum tentu bermanfaat untuk orang lain, atau bisa memecahkan masalah di masyarakat, atau dengan gelar sebanyak itu belum tentu membuat dia peduli pada masyarakat. Punya rumah besar, belum tentu rumah yang besar itu bermanfaat untuk masyarakat, biasanya juga diklaim dengan alasan privasi. Pasang aja pagar tinggi-tinggi, tutup, gak sembarangan orang bisa masuk. Punya laptop belum tentu bermanfaat untuk orang lain, bisa jadi cuma untuk mainan saja atau cuma seukur gaya-gayaan saja. Sekarang kan uphoria laptop makin hot tuh, apa alasan orang lebih memilih laptop ketimbang desktop ? Apakah ngikut trend ? Apakah karena keren bawa laptop ? Atau memang kebutuhannya laptop ?

Dan menariknya lagi, sekarang status tuh begitu diperebutkan dan orang rela melakukan banyak cara atau malah kalau perlu pakai cara apapun untuk mendapatkan status. Kenapa begitu ? Karena status begitu diprioritaskan masyarakat, dan itu dijadikan tolak ukur. Misalnya, orang yang belum menikah gak berhak bicara soal pernikahan, orang yang bukan sarjana fisika tidak berhak untuk bicara soal fisika, orang politik belum tentu mau mendengarkan nasehat politik dari luar kalangan politik, kalangan akademik belum tentu mau diajari orang yang gak sekolah, orang yang merasa dirinya baik belum tentu mau mendengarkan masukan dari mantan penjahat, orang yang sudah lebih tua belum tentu mau mendengarkan masukan dari orang yang lebih muda, dan lain lain.

Nah, semua itu kan contoh-contoh status. Untuk apa diprioritaskan, padahal tidak akan ditanya di akhirat. Dan karena status, banyak timbul masalah dan perselisihan. Jadi janganlah memprioritaskan status, tidak penting.

Written by luftix

July 19, 2009 at 1:06 pm

Posted in Pemikiran Saja

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. eheheheheeh,,jadi inget masukan mamang semalam,,
    masih belajar saya,,tapi paling ga jadi mulai banyak berpikir :D

    yulia

    July 19, 2009 at 1:46 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.