Dewasa Geura !
Setengah hari ini saya berpikir apa sih kedewasaan itu ?, kenapa yang namanya ‘kedewasaan’ itu jadi masalah pada banyak kesempatan ?
Misalnya begini, ada orang-orang yang sifatnya ambekan. Sebagian orang menganggap sifat ini adalah sifat yang tidak dewasa, or sangat tidak dewasa. Pertanyaannya, kenapa kita menganggap sifat ambekan itu sebagai ketidakdewasaan ? Untuk menjawab itu, saya balikkan lagi jika saya dalam posisi orang yang”‘diambekin”. Ketika saya diambekin orang, lalu saya judge orang itu “Gak dewasa lu !”, apa alasan saya ? ……. Setelah dipikir-pikir, alasannya cuma satu, yaitu karena saya tidak senang diambekin, karena diambekin itu terasa tidak menyenangkan. Hmmm … kalau begitu saya mengatakan orang itu tidak dewasa karena saya tidak disenangkan oleh orang itu.
Lalu misalnya begini, kalau kita diambekin orang yang kita sukai bagaimana ? Kalau dalam budaya masyarakat, ketika pedekate trus kita diambekin orang yang kita dekati karena sesuatu hal, sikap normalnya gimana ? ……. biasanya senang kan ya, karena kalau dia ngambek berarti dia “gak cuek” sama kita alias berarti mungkin ada perasaan juga, dan kita biasanya tidak akan mengatakan bahwa sikap itu sebagai ketidakdewasaan. Hmm … lalu kenapa kalau diambekin orang lain kita merasa tidak senang ?
Kalau saya pikir-pikir, yang namanya kedewasaan itu hanyalah sebuah definisi dari sebuah format sikap seseorang yang timbul dari sebuah pola pikir. Kedewasaan adalah pengelompokan perilaku atau pemikiran dimana ada sekelompok perilaku atau pemikiran yang kita hindari dan kita tandai sebagai “tidak dewasa” dan ada sekelompok lain yang kita anjurkan pada diri kita untuk melakukannya dan kita tandai sebagai “dewasa”. Misalnya masalah ambekan tadi, pada kebanyakan kasus kita menganggap ambekan itu sebagai ketidakdewasaan, tapi pada sejumlah kasus lain kita tidak mengganggapnya seperti itu. Dan ini biasanya berbeda-beda tergantung situasi dan orangnya.
Jadi, menurut saya memang yang namanya kedewasan itu relatif, karena itu tergantung pola pikir kita, dan pola pikir biasanya bergantung pada komunitas tempat kita berada. Selain itu, kedewasan itu juga bergantung dari apakah kita senang dengan suatu pemikiran atau perilaku. Biasanya kalau kita tidak senang dengan suatu perilaku atau pemikiran maka bisa jadi kita cap itu sebagai “tidak dewasa”, tapi kalau kita senang dengan suatu perilaku atau pemikiran maka kita tidak akan mencap itu sebagai dewasa atau tidak dewasa. Jadi klaim dewasa atau tidak dewasa hanya seperti permainan pikiran saja. Kalau saya definisikan sifat ambekan sebagai sifat yang biasa aja dalam otak saya, maka saya tidak akan berpikir orang yang suka ambekan itu adalah orang yang tidak dewasa.
So, why don’t we keep neutral ? Kenapa tidak kita berusaha berpikir netral, berusaha memaklumi sebisa mungkin setiap perilaku dan pemikiran orang lain, karena memang setiap orang itu berbeda. Dan ini memang sudah Allah SWT ajarkan, “untukmu agamamu, untukku agamaku”. Setiap orang memiliki aturan masing-masing untuk menentukan sikap dan perilakunya. Hmmm …. berarti kita juga harus berusaha memaklumi orang yang menggunakan istilah kedewasaan. Setiap orang berhak mengatakan sesuatu itu dewasa atau tidak dewasa, setiap orang berhak mengatakan sikap kita dewasa atau tidak dewasa …. selama masih dalam koridor aturan Allah SWT, tidak ada salahnya berusaha memaklumi.
Lagipula, saya pikir dengan tidak terlalu mempermasalahkan definisi kedewasaan orang lain, maka insyaAllah kita bisa lebih tenang dalam menjalani hidup dan lebih bisa menghargai orang lain.