Share Tapi Bukan Saham

Ungkapan pemikiran saja

Si Upin Bijak, Si Ipin Gak Bijak

leave a comment »

Bijak dan gak bijak, ini juga sering jadi masalah di masyarakat. Jadi masalah karena kebanyakan patokan kebijaksanaan kita adalah dari aturan budaya, jadi sangat sangat relatif, tergantung di lingkungan bagaimana kita tumbuh. Dan kita sering mencap sesuatu itu bijak dengan ego kita, akhirnya kalau orang lain melakukan sesuatu terhadap kita yang menurut kita gak bijak, itu jadi masalah … dan kalau perlu dengan masalah itu kita jadi sakit hati .. dan kalau perlu jadi musuhan.

Nah, kalau kita muslim, patokan bijak dan gak bijak itu seharusnya Al Quran. InsyaAllah gak akan jadi masalah kalau memang betul-betul Al Quran kita jadikan referensi utama tentang bijak dan gak bijak tersebut. Contoh, ada suami dan istri. Si suami namanya upin, si istri namanya ipin. Upin berpendapat begini, jadi orang tua itu kita harus keras sama anak, disiplin diperketat, anak harus selalu kita atur, anak harus nurut sama orang tua, dan kalau perlu dimarahi agar dia nurut. Menurut upin, itulah cara bijak supaya anak bisa jadi anak yang baik. Tapi Ipin berpendapat begini, jadi orang tua itu kita jangan terlalu keras sama anak, kalau pun mau marah ya yang ringan-ringan saja, kalau anak gak nurut kita kurangi saja uang jajannya atau apa yang dia minta gak kita kasih. Menurut Ipin itulah cara bijak supaya anak jadi anak yang baik. Salah gak ? .. ya jelas gak .. si Ipin dan Upin punya patokan bijak masing-masing tergantung dari bagaimana dia dididik oleh orang tua dan lingkungannya, dan pasti gak akan pernah sepakat .. paling paling ambil jalan tengah, kolaborasi hehe …

Nah, kalau di Quran, anak itu harus berkembang sesuai alur hidupnya, jadi kita harus selalu mem-profile anak setiap harinya untuk melihat arah minat anak ke mana. Tapi yang pertama kali yang harus diajarkan ke anak adalah “Siapa Tuhannya”. Jadi, menurut Allah SWT, mendidik anak tuh begini. Anak itu harus nurut ke Allah SWT, bukan ke orang tua. Jadi kalau orang tua menyimpang dari apa yang Allah SWT bilang, anak jangan ngikutin dan boleh mengkritik orang tua, dan orang tua harus terima. Aturan hidup anak juga harus aturan Allah SWT, jadi anak harus paham bahwa tanggung jawabnya nanti adalah di akhirat, dia bertanggung jawab ke Allah SWT bukan ke orang tua. Dan setiap yang dia lakukan itu ada konsekuensinya di akhirat, jadi dia harus selalu bertanya ketika akan melakukan sesuatu : “sudah siapkah dengan konsekuensinya di akhirat ?”. Dengan kata lain, anak itu harusnya nurut ke Allah SWT bukan ke orang tua. Trus, anak itu jangan dimarahin karena anak itu bagaimana orang tua mendidiknya, dan yang namanya anak-anak pasti gak nurut dan pengen nyoba ini dan itu, dan ngurus anak pasti susah. Jadi memarahi anak dalam kadar apapun itu tidak baik.

Nah, jadi kalau menurut Al Quran, prinsip mendidik anak menurut Ipin dan Upin tidak sesuai, jadi tidak bijak. Kalau si Ipin dan si Upin patokannya Al Quran, insyaAllah sama dan bisa bekerja sama dengan baik. Jadi tinggal kita pilih, patokan bijak dan gak bijak kita mau yang mana ? Quran ? atau budaya ?

Written by luftix

September 27, 2009 at 11:43 pm

Posted in Pemikiran Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.